Kegiatan yang mengusung tema “Akselerasi Potensi Lokal: Model Pendampingan Komprehensif daalam Peningkatan Kompetensi Wirausaha, Bahasa Global, dan Soft Skill” ini dijalankan oleh tim dosen dan mahasiswa FSE selama periode 2025. Program ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UTN sebagai bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Melalui tiga pilar utama, yaitu literasi keuangan, digitalisasi bisnis, dan pengembangan soft skill serta bahasa global, tim FSE memberikan pelatihan interaktif dan pendampingan praktis kepada masyarakat Kampung Nusa yang sebagian besar berprofesi sebagai pelaku UMKM, pemulung, dan buruh kasar. Harapannya, masyarakat dapat mengelola usaha lebih mandiri, mengoptimalkan teknologi digital, dan siap bersaing di kancah yang lebih luas.
Dekan Fakultas Sosial dan Ekonomi UTN, M. Zeinny H.S., S.E., M.B.A., CHBRP, menyampaikan apresiasi atas dedikasi tim pelaksana dan partisipasi aktif masyarakat Kampung Nusa. “Program ini adalah wujud komitmen FSE untuk terus hadir di tengah masyarakat, mendampingi, dan memberdayakan melalui ilmu yang aplikatif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen kami sebagai perguruan tinggi untuk turut serta memberdayakan masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), agar mampu bersaing di era digital yang terus berkembang.
Program ini difokuskan pada tiga pilar utama:
1. Literasi Keuangan – membantu pelaku UMKM mengelola keuangan usaha dengan lebih terstruktur dan mandiri.
2. Digitalisasi Bisnis – memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi operasional.
3. Pengembangan Soft Skill & Bahasa Global – membekali kemampuan komunikasi, adaptasi, dan percakapan dasar dalam bahasa Inggris untuk membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai program satu waktu, tetapi dapat terus berlanjut dalam bentuk pendampingan berkelanjutan, riset tindak lanjut, serta kolaborasi lebih luas dengan pemangku kepentingan di daerah.













